Friday, December 4, 2009

Kisah Ashabul Kahfi

KISAH ASHABUL KAHFI GUA PEMUDA KAHFI 





Artikel - Kisah Ashabul Kahfi - Bukti ketinggian ilmu Imam Ali bin Abi Thalib r.a

Dalam surat al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).
Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya.....
Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
إِذْ أَوَى الفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)
Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."
"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.
"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"
"Ya baik!" jawab mereka.
"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"
"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"
"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"
Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."
"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.
"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."
Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"
Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"
"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"
"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."
Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"
"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"
"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"
"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"
"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"
"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"
"Ya," jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"
"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."
Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"
Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!"
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."
Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"
Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"
"Aphesus," sahut penjual roti itu.
"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.
"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"
Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"
"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"
"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."
Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"
Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"
"Ya. Benar," sahut Tamlikha.
"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.
"Ya, ada," jawab Tamlikha.
"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"
"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"
"Aku Tamlikha anak Filistin!"
Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.
"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"
Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"
"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.
"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"
Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"
"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.
"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"
Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"
  1. Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

No comments:

Post a Comment

THE CLEAR MIRRORS
The fitrah is normally referred to as the 'mirror of fitrah'-whereby through the fitrah alone man can clearly see and believe in the existance of Allah, if he allows those inborn feelings to guide him.

RAJA-RAJA ADALAH AHLULBAIT

RAJA-RAJA ADALAH AHLULBAIT

JANGAN MAKAN IKAN KEKACANG

JANGAN MAKAN IKAN KEKACANG
Wasiat nenda YM SYED HUSSEIN JAMADILKUBRA NUSANTARA kepada anak-cucunya supaya JANGAN MAKE IKE KACENG!!
_______@@@@@@@@@@@@@@@@@________
__________&&&&&&&&&&&&&&&&&___________


YM TENGKU SRI MAHARAJA DATUK PERDANA MENTERI LONG GAFFAR KELANTAN 1756M



YM Long Gaffar adalah AHLULBAIT dari titihan bapanya keturunan Yang Mulia Wali 7. Syed Hussen JamadilKubra bin Sheikh Ahmad Jalal AlAkhbar (Kesultanan Deccan) bin Ali Zainal Abidin rd bin Isa Syakir bin Jaffar Saddiq bin Ali Zainal Abidin as bin Imam Hussein as (Karbala) bin Siti Fatimah azZahra (sydn. Ali KWJ) bin Muhammaad Rasulullah SAW bin Nabi Ismail as bin Nabi Ibrahim Al-Khalil bin Nabi Adam as. Ibunya pula dari titihan Puteri Krajaan D'Raja Champa zuriat nabi Ibrahim Al-Khalil dan Siti Qan’tura (Yunnan).

Baginda memerentah Kelantan (ketika itu dipanggil "Tanah Serendah Sekebun Bunga, Kisaran Payung, Negeri Cik Siti Wan Kembang) setelah menang perang iaitu perang Kota Kubang Labu 1 di dalam peristiwa sejarah yang terkenal iaitu ‘Tragedi Kain Cindai’.

Perang tersebut berlaku selepas raja Kota Kubang Labu yang bernama Long Pandak (dari keturunan Jembal) membunuh isterinya yang merupakan puteri Raja Legeh (Narathiwat sekarang).

PUTERI NENG MAS (Legeh)

Puteri tersebut bernama Puteri Neng Mas (Tengku tengah adik Long Deraman) adalah juga merupakan sepupu YM Long Gaffar telah dibunuh kerana dituduh bermukah dengan YM Long Gaffar, gara-gara ‘cemburu buta’ kerana Permaisuri telah memiliki "KAIN CINDAI" yang bernama "Cepa Melaka" yang dimiliki oleh YM Long Gaffar.

'KAIN CINDAI Chepa Melaka'

Sebenarnya kain cindai tersebut dipinjamkan oleh YM Long Gaffar semasa lawatannya bersama YM Long Yunus ke Kota Kubang Labu, kebetulannya pada masa kedatangan YM Long Gaffar itu, Long Pandak baru pergi berburu.

Manakala di masa itu Permaisuri terasa tertarik dengan kain Cindai ‘Chepa Melaka’ yang dibawa oleh YM Long Gaffar itu; lalu meminta untuk ditiru tenunannya. YM Long Ghaffar sedia meminjamkan kain Cindai itu kepada permaisuri sambil disaksikan oleh YM Long Yunus.

Kemudian, tanpa mengambil kembali kain Cindai tersebut, YM Long Gaffar dan YM Long Yunus pun bersepakat untuk berjalan-jalan sambil merantau sampai ke Terengganu (menunaikan amanat al-Sultan Pattani ayahandanya, supaya melihat perkembangan negeri Terengganu).

BERANGKAT KE TERENGGANU

Sesampainya di Terengganu (Besut), YM Long Gaffar dan YM Long Yunus menjadi begitu sedih, marah dan terharu apabila mendengar keluhan dan aduan rakyat tentang jajahan Besut yang telah dirampas oleh Bugis.

Yang mana sebelum ini jajahan Besut telah tergadai kepada Bugis oleh Sultan Terengganu akibat ‘Kalah dalam sayembara ‘Laga at Yang Mulia (YM) Syed Hussein JamadilKubra bin Sheikh Ahmad Jalal Al Akhbar (Deccan).
Ayam’, sedangkan negeri Terengganu itu adalah ‘HADIAH’ nendanya al Sultan Pattani kepada YM Raja Johor, sebagai tanda kekeluargaan dan kasih sayang dari titihan wali keram
Tanpa mencela dan tanpa pengetahuan Sultan Terengganu, YM Long Gaffar dan YM Long Yunus telah berpakat untuk bertanding ‘Laga Ayam’ dengan angkatan Bugis demi mengembalikan semula pengaruh dan kredibiliti Empayar ayahandanya Pattani dan Istana Terengganu itu sendiri; Dan apatah lagi baginda Long Gaffar sendiri adalah Putera Mahkota Pattani, maka layaklah beliau sendiri menyelesaikan masalah tersebut.

PENGHULU ADAS____

_Akhirnya dengan kebjiksanaan dan kepandaian senjata bapa saudara baginda, Penghulu Adas (YM Datuk Syed Kadok 1), telah menggunakan tipu-helah menggunakan ‘Lawi Ayam’ iaitu satu senjata kecil daripada BESI seperti pisau, sehingga berjaya membuat ‘ayam sabung’ angkatan Bugis kecundang walaupun kelihatan pada mulanya Ayam Sabung itu sudah hampir kalah.

Rentetan daripada kemenangan tanpa upah itu, lalu menjadi kecohlah bumi Terengganu dengan teriakan:

“Raja Long Gaffar ambil balik Besut! Raja Long Gaffar ambil balik Besut!”,

Maka sampailah berita itu kepada Sultan Terengganu, maka dijemputnya angkatan YM Long Gaffar dan YM Long Yunus bersaudara ke Istana Terengganu lalu diraikan dalam upacara yang penuh gilang-gemilang. Menurut riwayat, baginda diraikan selama tiga bulan berturut-turut di Terengganu.


UTUSAN BERKUDA

Di masa YM Long Gaffar dan angkatannya bersama Sultan Terengganu tengah bersukaria di istana, tiba-tiba datanglah ’utusan berkuda’ dari Kerajaan Reman- Pattani yang membawa perkhabaran tentang kematian Permaisuri Kelantan iaitu sepupu kepada YM Long Gaffar dan YM Long Yunus bersaudara yang dibunuh oleh Long Pandak, Sultan Kelantan di masa itu.

Maka angkatan baginda YM Long Gaffar pun bertolak dari Terengganu bersama ratusan askar dari kerajaan Istana Terengganu untuk merampas kembali ‘kedaulatan’ empayar Pattani-Kelantan yang mula diderhakai oleh Long Pandak.

Di tengah jalan, rupanya telah ada satu pasukan pembunuh khas dari sultan Long Pandak untuk menyerang hendap angkatan YM Long Gaffar di Mahligai, Pasir Putih

PENYERANG 'HENDAP_____

Alhamdulillah dengan ‘pertolongan Allah’, rencana ‘serang hendap’ oleh pasukan Long Pandak itu dapat dihidu oleh pembesar kepada Datuk Syed Kadok 1, Tok Kundor @ Pendekar Kundor (Kg. Anak Bukit, Melor, Kelantan),

Lalu Pendekar Kundor mengarahkan penduduk dan kaum-kerabatnya yang setia pada YM Raja Long Gaffar untuk menyerang hendap pula pasukan Long Pandak daripada belakang.


Lantaran itu habis mati kesemuanya pasukan ‘penyerang hendap’ tentera Long Pandak dibunuh oleh Pendekar Kundor dan penduduk Kg.Anak Bukit, Melor tanpa belas kasihan lagi.

Sesampainya angkatan YM Long Gaffar ke tempat kejadian itu, dilihat musuh-musuhnya telah menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan tidak bernyawa lagi..

KE KOTA KUBANG LABU

Kemudian angkatan YM Long Gaffar telah bergabung dengan angkatan Pendekar kundor, Kg. Anak Bukit, Melor, menuju ke Istana Kota Kubang Labu beramai-ramai. Di masa itu hari telah pun melampaui waktu Isya’.


Sesampainya angkatan YM Raja Long Gaffar ke Istana Kota Kubang Labu adalah hampir-hampir waktu subuh;

“Ketika lena dibuai mimpi tidur, tiba-tiba Long Pandak membukakan matanya, lalu ia terdengar bunyi Ayam Jantan berkokok: “koo.. kokokoOO..”;

Dan ia melihat DUA ORANG LELAKI BERTOPENG; Lalu Long Gaffar membunuh Long Pandak dan YM Long Yunus membunuh Long Mohamaad @ Long Deraman”.


Kemudian YM Long Gaffar berkata kepada YM Long Yunus:




“Adik (adinda)! Kamu tinggal dalam istana (jadi Raja) dan biar abe (kekanda) pegang rakyat.”




lalu ia memakai gelaran Tengku Sri Maharaja Datuk Perdana Menteri Long Gaffar Kelantan iaitu yang berstatus sebagai
Yang DiPertuan Agong sekarang ini merangkap PERDANA MENTERI (dua-dua pegang kuasa eksekutif dengan kuasa rakyat)

Segala perkara-perkara KEHAKIMAN yang berkaitan dengan urusan agama Islam dan hokum ‘Hudud’ diserahkan kepada Kerajaan YM Raja Long Gaffar di Limbat; manakala YM Long Yunus menjadi Raja yang bersemayam di istana Kota Kubang Labu yang melibatkan urusan istana dan pentadbiran sosial sahaja.


Di Kota Limbat, YM Long Gaffar mula membangunkan madrasah berbentuk ala ‘pondok’ (cottage learning Centre) untuk perkembangan agama Islam dan melantik seorang ulama besar bernama TOK BARUH (Hj. Ismail, Pattani) untuk menjadi guru madrasah di situ.


Manakala baginda sendiri akan turun mengajar setiap hari Jumaat dengan memakai Topeng (ala Zorro atau di balik tabir) untuk mengajar rakyat supaya tidak dikenali.

Di zaman baginda YM Long Gaffar inilah satu peristiwa sejarah yang besar telah berlaku iaitu dengan terbitnya Kitab Munyatul’Musolli yang dikarang oleh Syeikh Daud alFatoni di Mekah, hanya dengan menggunakan jari-jarinya sahaja dalam keadaan gelap tetapi telah disinari cahaya putih yang keluar dari tangannya.


Kitab itu dikarang oleh Sheikh Daud alFatoni atas arahan YM Raja Long Gaffar Kelantan 1754M untuk memerintah di Kota Limbat.


Firman Allah:“Sesungguhnya orang-orang yang inginkan akhirat tidak akan mencari pengaruh di mukabumi” (alQuran).


DUA RAJA BERSAUDARA


Gabungan ‘dua Raja bersaudara’ yang warak, alim, bijaksana dan berani itu telah membentuk satu identiti yang unik bagi Kelantan dan tersendiri; di mana di masa pemerentahan YM Long Gaffar dan YM Long Yunus itulah, baru terlaksananya HUKUM HUDUD yang tulen dan tersebarnya dengan meluas ilmu ALQURAN (pegangan AhlulBait-quran Qadim) dan juga ilmu Kitab-Kitab Muktabar seperti AlHikam, Muhimaah, Munyatul’Musolli, Minhajul'Abidin dan Kitab Kuning Pattani selain Kitab Nur Muhamaad dan Hikayat Nabi Bercukur.


___*nota: __


_Kain Cindai ‘Chepa Melaka’ akhirnya telah dirampas penjajah pada era pasca perang dunia ke I pada (1909M) ketika era menghapuskan pengaruh dan kuasa YM Long Gaffar dalam istana oleh penjajah daripada pewaris terakhirnya Datuk Syed Kadok III iaitu Tengku Mahmud bin Tengku Hussein @ Nik Mud bin Nik Sen alKubra yang mencari perlindungan di Kg. Kadok, Ketereh.

Kg.Kadok adalah tempat berdiamnya bapa saudara YM Tengku Mahmud iaitu Datuk Syed Kadok II dan kemudiannya telah dikahwinkan dengan anak YM Datuk Syed Kadok sendiri (sepupunya) iaitu YM Syarifah Maryam @ Nik Yam dan diberi ‘hadiah’ berupa tanah seluas 14 ekar di Kg. Bandar, Pulai Chondong, 16660 Kelantan dan sebuah Kapal Laut bernama 'KAPAL SRI KELANTAN'.


MEMBUKA KAMPUNG BANDAR

Baginda kemudiannya hidup ‘zuhud’ dengan hanya dikenali sebagai ‘anak Raja T'tani pembuka Kg. Bandar’ dan guru mutlak alQuran Qadim.

Perkampungan baru itu menjadi transit utama di zaman itu kerana pengangkutan utamanya adalah sungai dan kampung itu bersebelahan dengan Sungai Kelantan.

Kampung itu dinamakan 'KAMPUNG BANDAR' kerana bermaksud Perkampungan iaitu MEKAH dan Perbandaran bermasud 'MADINAH; lalu dijadikan kampung itu dengan nama KAMPUNG BANDAR atau MEKAH-MADINAH.

Manakala, kitab syariat yang menjadi teras ajarannya adalah Tanbihul'Ghafilin, minhajul'Abidin, Munyatul'Musolli dan Ihya' Ulumiddin karangan Imam Ghazali rd.


‘NEGERI DIKERAT LINTANG’


Di zaman pemerintahan dua Raja bersaudara, YM Long Gaffar dan YM Long Yunus itulah Kelantan pula dikenali pula sebagai ‘Negeri dikerat lintang’ atau atau negeri dua pemerintahan.


Mengikut sejarah yang terdahulu, pada awalnya (1350M), Kelantan diberi nama oleh nendanya Syed Hussein JamadilKubra berdasarkan peristiwa ‘Kilatan’ atau ‘cahaya berbentuk Tudung Saji’ di Bukit Panau.

(rujuk perpustakaan Awam Kelantan dan profile M Q T K ).


Kepala AhlulBait adalah lebih mahal bagi Yahudi laknat’tullah, selain kepala Osama ben Laden!


YM Datuk Syed Kadok III


Sebenarnya zuriat terakhir YM Long Gaffar-Pattani iaitu YM Tengku Mahmud bin Tengku Hussein @ Nik Mud bin Nik Sen (Putera Mahkota Pattani yang hilang dalam sejarah) telah berhijrah ke Kelantan (Kg.Kadok) dari Pattani adalah kerana telah diburu oleh kerajaan SIAM.


Baginda Tengku Mahmud telah mendapat berita bahawa kerajaan Siam telah bernekad untuk menyerang Istana Pattani pada satu tarikh yang diketahui oleh penasihat istana Pattani seorang waliAllah yang kasyaf.

Maka baginda bersama 40 orang pengikut setianya telah melarikan diri dari istana Pattani pada waktu subuh (rujuk MQTK scribd) dan membawa bersama mereka Kitab-Kitab Muktabar Pattani seperti Kitab Kuning, Nur Muhamaad, Tanbihul'Ghafilin, alHikam, Munyatul’Musolli, Faradatul’Faraid, Minhajul’Abidin dan banyak lagi kerana di masa itu Kitab-Kitab diutamakan di istana-istana Raja kemudian baru disebarkan kepada rakyat.


Nota:

Dimasa dahulu, Kitab-Kitab Muktabar adalah amat-amat diagungkan. Sebelum disebarkan kepada rakyat, Kitab-Kitab itu akan diarak disekeliling istana dahulu. Begitulah mulianya Kitab-Kitab agama itu. Di masa itu, hanya anak-anak Raja (golongan Istana) yang pandai membaca Kitab dan tahu hukum-hukum agama.
Setelah dewasa, maka MEREKA akan sebarkan kitab-kitab itu untuk rakyat.

nota:
Kitab-Kitab Muktabar pegangan AhluilBait Pattani-Kelantan sekarang ini 100% telah pun diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan bahasa Inggeris;


_Kitab-Kitab tersebut telah pun disahkan dengan rasminya -oleh Ybhg. Prof. Uthman Muhammaed El-Muhammady, fellow (ISTAC) dan juga selaku Penasihat Kehormat MQTK Malaysia pada Mac 2009 bersama MQTK committee meeting iaitu YM YDP MQTK Yusnaidi bin Yusoff, cikgu Arrifin bin Che Yahya (PKHEM, Sek. Men. Hamzah 1, 18500 Machang, Kelantan, dan YM Nik Mohd Kamal bin Hj. Nik Lah (ajk PKLGK) dan perjumpaan ini adalah diatur dan turut disaksikan oleh YM Wan Syamsuddin Ramli, bendahari MQTK dan YM Nik Mahadi bin Nik Hassan selaku wakil TV3 Kelantan.


TAQQIYYAH


Selain dari Kitab-Kitab Muktabar; dibawa bersama mereka juga dua biji ‘buah pinang’ untuk ditanam di tepi rumah masing-masing jika telah selamat sampai di mana-mana destinasi sebagai satu ‘tanda’ untuk dikenal akan KETURUNANNYA, kerana angkatan YM Tengku Mahmud telah berhijrah lebih awal ke Kelantan dan manakala yang lain ada yang mencari perlindungan dan menetap di Kedah, Perlis dan Terengganu.; begitu juga di Pahang dan Perak.


Melalui era Datuk Syed Kadok III inilah bermulanya kembali episode cerita menyembunyikan ‘identiti’ atau TAQQIYYAH sebagai ahlulbait dan Putera Mahkota Pattani yang hilang dalam sejarah itu.__

KESIMPULAN

Kain Cindai ‘Chepa Melaka’ adalah inti kepada perubahan sejarah negeri Kelantan. Daripada ‘Tragedi Kain Cindai’ itulah yang membawa kepada kemangkatan Permaisuri Kelantan (sepupu Long Gaffar) dan terbunuhnya Sultan Kelantan (Long Pandak dari titihan Raja Sakti- Raja Jembal) sehingga berlakulah peralihan takdir Allah sehingga terbentuknya satu institusi Kesultanan AhlulBait di bumi Kelantan;

Dan di zaman YM Long Gaffar dan YM Long Yunus, barulah ikhwan Islam dan ROH sebenar Islam di bumi berkat ini terhasil.


Malangnya akibat diratah zaman penjajahan pasca-perang Jepun-British, pengaruh AhlulBait dalam pentadbiran Istana mula dihapuskan. Sistem ‘pecah’ dan ‘perintah’ telah mencerai-beraikan Empayar Kesultanan AhlulBait Nusantara sehingga ke sekarang ini.

Begitu juga di Kelantan dan Malaysia, AhlulBait telah tersembunyi disebalik identiti 'BUMIPUTERA'; dan identiti ini perlu dipelihara dn dijaga sebagai satu Amanah Allah. Perjuangan perlu diteruskan sehingga Melayu tetap MERDEKA sehingga WAHYU ALLAH (alQuran) mengatasi segala-galanya, insyaAllah..!____

"Sultan adalah PAYUNG ALLAH di muka bumi ini, tempat bernaungnya orang-orang lemah, memberi pertolongan kepada orang-orang aniaya. Barangsiapa yang memuliakan SULTAN ALLAH di dunia ini, Allah akan memuliakannya di Hari Kiamat"______
(Hadis daripada Abu Hurairah)

Ingat! AhlulBait haram menerima sedekah dan duit zakat. Kalau mahu terima juga, tukarkan niatnya kepada HADIAH. Natijah perlanggaran akan menyebabkan ditimpa penyakit dan musibah (rujuk ulama @ Kitab Keutamaan Keluarga Rasulullah keluaran Klang Book Store).


Ingatlah! Negeri kita ini aman sentosa sedangkan di sekitarnya binasa dengan pelbagai masalah dan bencana. kerana ada zuriat nabi SAW yang menjadi payungnya,


lantaran itu telah menjadi sejarah, Tanah Melayu yang awalnya menjadi tumpuan penghijrah seperti orang Cina, India dan bangsa lain tertumpu ke negeri Tanah Melayu dan menjadilah bahasa Melayu ‘Lingua Franca’ pada dunia.sedangkan di sekitarnya binasa dengan pelbagai masalah dan bencana.


Ironinya, setelah sekian lama RAHMAT itu dijaga, adakah sekarang ini ada seiapa yang berani menderhaka kerana jahil tentang HUKUM?, Jahil tentang sejarah?

Ingatlah! Raja-Raja itu Panca Seri! Panca Seri itu adalah Daulat! Daulat itu KURNIA Allah. Buang Raja hilanglah Daulat; Apabila hilang Daulat maka Binasalah negeri. Binasa negeri hilanglah MELAYU; kerana itu ada Rajanya iaitu zuriat Yang Mulia AhlulBait Rasulullah SAW dan ingatlah akan .....


WASIAT NENDA RASULULLAH SAW:


“AhlulBait itu ibarat Bahtera Nuh di zaman Nuh. Mereka itu adalah satu-satunya SARANAN KESELAMATAN-ku di akhir zaman. Sesiapa yang menaikinya akan selamat dan sesiapa yang ketinggalan akan binasa.”


“Sesiapa yang membenci AhlulBaitku adalah membenciku; Dan sesiapa yang membenci-ku adalah menjadi Musuh Allah dan musuh Jibril”.
Dan Firman Allah:

“Adakah mereka itu dengki kepada manusia yang Kami berikan ‘rahmat? Sedangkan Kami telah memberi kepada keluarga Ibrahim (ahlulbait), Kitab dan Hikmah; dan Kami telah memberi kepada mereka itu satu KERAJAAN yang besar”.


Firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah melebihkan Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim (ahlulbait) dan Keluarga Imran melebihi umatnya di zamannya” (alimran 3:33)


Kekaburan Sejarah Kelantan


Terdapat pihak yang mengatakan terdapat penyelewengan yang berkaitan dengan fakta sejarah negeri ini. Pendedahan yang telah dibuat menyebabkan ada pihak yang terasa. Penyelewengan itu dikatakan bermula dengan terbitnya buku "Ringkasan Cetera Kelantan" oleh Dato’ Perdana Menteri Nik Mahmud Bin Ismail sebelum tahun 1950-an.


Penyelewengan fakta ini dipercayai dilakukan secara terancang dan berterusan ini terbukti dengan terbitnya buku terbaru sejarah Kelantan iaitu "Iktisar Sejarah Kelantan" yang kemudiannya diiklankan di dalam majalah "Pengasuh" keluaran MAIK.


_PERANG KOTA KUBANG LABU II 1762M

Dikatakan, ramai yang tidak menyedari bahawa selepas kejatuhan "Kota Lubang Kubu" akibat Perang Kota Lubang Labu II pada tahun 1762M di antara Long Pandak yang memerintah Kota Lubang Labu dengan YM Long Gaffar (Long Gaffar merupakan Raja Muda Negeri Reman (sampai Ulu Kuala Kangsar, Perak dan juga adalah Putera Mahkota Pattani) dan bukannya anak pembesar Reman seperti yang didakwa di dalam buku di atas).


Tapi cerita sebenarnya, baginda YM Long Gaffar tidak mahu menjadi Sultan (living simply) dan mengambil jalan merantau terutamanya ke Kelantan kerana di Kelantan ada sebuah bukit yang namanya Bukit Panau atau Bukit Tunggal..


Bukit ini adalah nostalgia bagi YM Long Gaffar dan penduduk negeri Kelantan kerana daripada peristiwa nendanya Syed Hussein JamadilKubra yang melahirkan ‘KILAT’ ketika be-Ritual kerohanian (Ibadat suluk) sehingga melahirkan 'KILAT-kilat-tan' yang berbentuk ‘Tudung Saji’ sehingga terwujud nama negeri Kelantan.


Negeri ini kemudiannya telah diperintah oleh YM Long Gaffar dan keturunannya selepas peristiwa ‘Tragedi Kain Cindai’ sampai kepada era penghapusan kuasa AhlulBait di dalam pemerentahan (Istana) pada lewat pasca-perang Jepun-British.


KOTA LIMBAT

Pusat pemerintahan utama semasa pemerintahan YM Long Gaffar di Negeri ini ialah di Kota Limbat, Peringat dan pada masa yang sama seorang tokoh iaitu YM Long Yunus (anak Long Sulaiman) yang merupakan saudara SEPUPU kepada YM Long Gaffar yang dianggap sebagai adik oleh baginda YM Long Gaffar, manakala YM Long Gaffar juga dianggap ‘GURU’ oleh YM Long Yunus kerana mengajarkan ilmu alQuran Qadim kepadanya. Lalu YM Long Yunus telah diberikan kuasa memerintah oleh YM Long Gaffar dari kawasan Pasir Tumbuh hingga ke Padang Garung, dan seterusnya hingga ke Kuala Kemasin dan di sebelah Baratnya hingga ke Bukit Tanjung (Narathiwat).


Walau bagaimanapun, segala keputusan dan kuasa sebenar berkaitan pentadbiran dan kes-kes jenayah ‘HUDUD’ adalah terletak di bawah bidang kuasa Baginda Long Gaffar di kota Limbat.


Pada zaman baginda YM Long Gaffarlah ‘hukum Hudud’ yang pertama telah dilaksanakan dengan sempurnanya. Di zaman beliaulah segala kitab-kitab muktabar pegangan AhlulBait Rasulullah dapat diterjemahkan ke bahasa Melayu (Jawi) dan segala hal ehwal Islam dapat dilaksanakan. Realiti daripoada itiu, akhirnya bumi Kelantan menjadi makmur dan berkat sehinggalah sampai pada era penjajahan.


Dua pemerentahan antara Kerajaan di Limbat dengan Istana Kota Kubang Labu, menyebabkan Kelantan dikenali dengan nama ‘Negeri Yang Di-kerat Lintang’ atau Kelantan iaitu antara Raja yang memerintah iaitu baginda YM Long Gaffar yang berpusat di Kota Limbat dengan Long Yunus dan sempadannya ialah Pasir Tumbuh.

PENYELEWENGAN FAKTA SEJARAH

Fakta tersebut dikatakan cuba diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu di Kelantan dengan memutarbelitkan peristiwa (menyatakan YM Long Yunus yang beri kuasa kepada Long Gaffar) bertujuan bagi memperkecilkan dan seterusnya menghapuskan peranan YM Long Gaffar dalam lipatan sejarah Kelantan sedangkan dalam perang tersebut, YM Long Gaffar telah Berjaya membunuh Sultan Kelantan iaitu Long Pandak, manakala Long Yunus pula membunuh Long Deraman (bapa saudara Sultan).


Semasa pemerintahan baginda YM Long Gaffar dan keturunannyalah, telah terlaksana Hukum Hudud yang pertama di Kelantan. Di antara tokoh yang terlibat dan menjadi tempat rujukan dan nasihat bagi perlaksanaan hukuman ini ialah Haji Nik Ismail Limbat (Tok Baruh) yang merupakan keturunanan Raja Jambu Patani yang asal.

Keturunannya kemudian mengasaskan pondok Bukit Abal dan salah seorang dari keturunannya muncul sebagai tokoh agama yang terkenal iaitu Tuan Guru Haji Daud Bukit Abal.


PEMBERONTAKAN TOK JANGGUT 1915M

Pemerintahan keturunan YM Long Gaffar di Kelantan berakhir selepas peristiwa ‘pemberontakan Tok Janggut’ pada tahun 1915M iaitu semasa pemerintahan Tengku Besar Jeram iaitu Tengku Besar Tuan Ahmad yang memerintah di Jeram, Pasir Puteh.Peristiwa yang membawa kepada kejatuhan pemerintahan keturunan YM Long Gaffar ini berpunca dari keengganan mengiktiraf pengaruh Inggeris dan Siam ke atas negeri Kelantan.

Akibat mainan politik penjajah Inggeris dan Siam, para keturunan YM Long Yunus kemudiannya diiktiraf sebagai pemerintah Kelantan dan menggugurkan ketuanan YM Long Gaffar dan keturunannya.


Buku sebenar yang dipercayai mempunyai Sejarah Kelantan ini ditulis menggunakan tulisan Jawi Lama dikatakan ada tujuh naskhah. Buku ini dipercayai ditulis oleh penulis DiRaja pada zaman pemerintahan Baginda YM Long Gaffar bagi menceritakan tentang salasilah keturunan Raja-Raja yang berasal dari Pagar Ruyung bukit Si Guntang dan kebesaran kerajaan baginda Pattani.

_____Berikut adalah maklumat terakhir tentang buku-buku berkenaan:-


() Sila rujuk Perpustakaan Awam Kelantan.


() M Q T K/PKLGK/PKDSKK/PKSHJKN


_____@@@@@@@@@@@@@@@@@@@______

Keluarga Kawe..

Keluarga Kawe..
Keluarga YM Datuk Syed Kadok V, Kg.Bandar, Machang, Kelantan.

Kitab-Kitab Rujukan Ahlulbait

  • ALQURAN TAFSIR,
  • Muhimaah, Untaian Kisah Wali-Wali Allah, AlHikam, Futul Ghaib, Bidayatul Hidayah